🥋 Khotbah Tentang Kehidupan Sehari Hari
Iatidak memiliki bakat-bakat khusus yang mengagumkan, tetapi pekerjaannya begitu berharga karena dia menggunakan kemampuan yang diberikan Tuhan sebagai persembahan yang kudus dalam pelayanan kepada Tuhan. Pengetahuannya yang cerdas mengenai kebenaran dan kesalehan yang dipraktikkan dalam kehidupannya memberikan dia kehormatan dan pengaruh.
HomeKesabaran dan Keteguhan Hati pada Setiap Kesulitan dalam Kehidupan Sehari-hari Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu'minin Hadhrat Mirza Masroor Ahmad Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta'ala binashrihil 'aziiz [1] Tanggal 19 November 2010 di Masjid Baitul Futuh, UK. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمّدًا عبده ورسوله.
MateriKhutbah Jumat akan memperkuat keimanan dan ketakwaan serta bagian dari rukun Salat Jumat. Simak materi Khutbah Jumat singkat dengan tema " wujud takwa dalam kehidupan sehari-hari.. Berikut
Khutbahkedua - Khutbah Jumat Singkat Tentang Realisasi Tauhid Dalam Kehidupan الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، نبينا محمد و آله وصحبه ومن والاه، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنَّ محمّداً عبده ورسولهُ Baca Juga: Meluruskan dan Merapatkan Shaf Ketika Shalat Berjamaah Ummatal Islam,
Nats: Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu hari maupun saatnya (Matius 25:13) Bacaan : Matius 25:1-13. Suatu kali, Washington Post mengingatkan tentang insiden tragis yang dialami kapal Titanic. Di ruang kendali, petugas sedang sibuk menjalankan tugasnya. Telepon berdering. Satu menit berlalu.
kumpulankhutbah dan ceramah dalam praktek kehidupan sehari-hari | KhotbahJumat.com. Profil Yufid Network. Donasi untuk Dakwah Yufid. Laporan Produksi Yufid.
Olehkarena itu, di dalam Alquran di sebutkan, bahwa apabila manusia ingin selamat dan terhindar dari kerugian da lam kehidupan ini, maka harus meng amal kan agama dengan komitmen dan konsisten. Yaitu beriman, beramal shaleh, dan saling berwasiat (menasihati) dalam kebenaran serta saling berwasiat dalam kesabaran.
. Navigasi cepat itu pertobatan sejati? Apakah Kita Memiliki Pertobatan Sejati Kita Belum Mencapai Pertobatan Sejati? Mencapai Pertobatan Sejati Dalam beberapa tahun terakhir, bencana semakin besar dan semakin parah, seperti gempa bumi, tulah, kebakaran, banjir, dan sebagainya. Banyak orang telah menyadari bahwa bencana yang sering terjadi adalah tanda-tanda kedatangan Tuhan Yesus, dan hari Tuhan Yesus semakin dekat. Tuhan Yesus berkata "Bertobatlah engkau karena Kerajaan Surga sudah dekat" Matius 417. Jelas, hanya mereka yang benar-benar bertobat yang dapat dilindungi oleh Tuhan dan menghindari kematian dalam bencana. Jadi, apa yang dimaksud dengan pertobatan sejati? Bagaimana kita dapat mencapai pertobatan sejati? Mari kita menjelajahi topik ini bersama. Apa itu pertobatan sejati? Apa itu pertobatan sejati? Banyak orang berpikir, "Selama kita berdoa kepada Tuhan untuk bertobat, menerapkan kerendahan hati dan kesabaran, menderita, memikul salib dan melakukan banyak perbuatan baik, maka itu berarti kita telah mencapai pertobatan sejati." Apakah pandangan ini sejalan dengan kehendak Tuhan? Apa yang Tuhan katakan? Tuhan berkata, "Karena itu jadilah kudus, sebab Aku ini kudus" Imamat 1145. Wahyu 2214 menubuatkan, "Berbahagialah mereka yang melakukan perintah-perintah-Nya, sehingga mereka dapat memperoleh hak atas pohon kehidupan dan dapat masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam kota itu" Wahyu 2214. Tuhan itu kudus dan Dia membenci dosa manusia. Jadi pertobatan sejati mengacu pada saat orang tidak lagi berbuat dosa atau melawan Tuhan. Hanya ketika kita mencapai penyucian dan transformasi dalam watak rusak kita, seperti keegoisan, tipu daya, kesombongan, kejahatan, keserakahan, dan lebih banyak lagi, benar-benar membuang belenggu dan batasan dosa, dapat sepenuhnya menaati dan mengasihi Tuhan, dan tidak pernah memberontak melawan dan menentang Tuhan, dapatkah kita menjadi orang yang memiliki pertobatan sejati dan memenuhi syarat untuk memasuki kerajaan surga. Merenungkan Apakah Kita Memiliki Pertobatan Sejati Mari kita bandingkan diri kita dengan standar yang diminta oleh Tuhan untuk melihat apakah kita memiliki pertobatan yang benar. Kita secara lahiriah melakukan beberapa perbuatan baik, tetapi apakah ini berarti kita tidak lagi berbuat dosa atau melawan Tuhan? Apakah ini berarti kita telah disucikan? Kita sering hidup dalam keadaan berbuat dosa dan mengaku dosa, dan tidak mampu menerapkan firman Tuhan, jadi bagaimana kita bisa disebut orang yang benar-benar bertobat? Sebagai contoh, meskipun kita bisa bekerja keras, kita sering menghitung kontribusi kita sendiri, dan memamerkan diri kita sehingga orang lain menganggap kita tinggi dan memandang tinggi kita. Kita masih bisa berjuang untuk reputasi dan kepentingan pribadi kita, dan terlibat dalam perselisihan dan kecemburuan. Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita bisa bersikap toleran dan sabar dengan orang lain dan tidak bertengkar dengan orang lain, tetapi begitu orang lain melanggar kepentingan kita atau menyakiti harga diri kita, bagaimanapun, kita jadi membenci mereka, atau bahkan membalas dendam pada mereka. Dalam kehidupan rumah tangga kita, kita menyatakan bahwa Kristus adalah kepala rumah kita, tetapi kita egois, selalu ingin mendapatkan keputusan akhir dalam segala hal dan ingin orang lain mendengarkan kita. Saat menghadapi bencana alam atau bencana buatan manusia, kita menyalahkan dan salah memahami Tuhan, dan bahkan dapat mengkhianati Tuhan… Dari fakta-fakta ini, kita dapat melihat bahwa tidak peduli berapa banyak perbuatan baik yang kita lakukan di permukaan, seberapa keras kita bekerja, dan seberapa mampu kita menderita dan membayar harga, ini tidak berarti bahwa kita memiliki pertobatan sejati. Hanya dengan membuang watak rusak kita dan tidak lagi berbuat dosa untuk melawan Tuhan, barulah kita bisa menjadi orang yang benar-benar bertobat. Hanya orang-orang seperti itu yang dapat sesuai dengan Tuhan dan memenuhi syarat untuk memasuki kerajaan surga. Mengapa Kita Belum Mencapai Pertobatan Sejati? Mungkin beberapa orang akan bertanya, "Dosa-dosa kita diampuni karena kita telah menerima keselamatan Tuhan Yesus. Tetapi mengapa kita masih hidup dalam dosa dan gagal mencapai pertobatan sejati?" Mari kita membaca dua bagian dari firman Tuhan dan kemudian kita akan memahami pertanyaan ini. Tuhan berfirman "Meskipun manusia telah ditebus dan diampuni dosanya, itu hanya dapat dianggap bahwa Tuhan tidak lagi mengingat pelanggaran manusia dan tidak memperlakukan manusia sesuai dengan pelanggarannya. Namun, ketika manusia hidup dalam daging dan belum dibebaskan dari dosa, ia hanya bisa terus berbuat dosa, tanpa henti menyingkapkan watak rusak Iblis dalam dirinya. Inilah kehidupan yang manusia jalani, siklus tanpa henti berbuat dosa dan meminta pengampunan. Mayoritas manusia berbuat dosa di siang hari lalu mengakui dosa di malam hari. Dengan demikian, sekalipun korban penghapus dosa selamanya efektif bagi manusia, itu tidak dapat menyelamatkan manusia dari dosa. Hanya separuh dari pekerjaan penyelamatan telah diselesaikan, karena watak manusia masih rusak ...." "Dosa manusia dapat diampuni melalui korban penghapusan dosa, tetapi manusia belum mampu menyelesaikan masalah bagaimana ia dapat untuk tidak lagi berbuat dosa dan bagaimana agar sifat dosanya dapat dibuang sepenuhnya dan diubahkan. Dosa manusia diampuni karena pekerjaan penyaliban Tuhan, tetapi manusia tetap hidup dalam watak lama Iblis yang rusak. Dengan demikian, manusia harus sepenuhnya diselamatkan dari watak rusak Iblis sehingga sifat dosa manusia sepenuhnya dibuang dan tidak akan pernah lagi berkembang, sehingga memungkinkan watak manusia berubah. Hal ini mengharuskan manusia memahami jalan pertumbuhan dalam kehidupan, jalan hidup, dan cara untuk mengubah wataknya. Hal ini juga mengharuskan manusia untuk bertindak sesuai dengan jalan ini sehingga watak manusia dapat secara bertahap diubahkan dan ia dapat hidup di bawah cahaya terang, sehingga segala sesuatu yang ia lakukan sesuai dengan kehendak Tuhan, sehingga ia dapat membuang watak rusak Iblisnya, dan supaya dia dapat membebaskan dirinya dari pengaruh kegelapan Iblis, sehingga ia pun benar-benar lepas dari dosa. Hanya dengan begitu, manusia akan menerima keselamatan yang lengkap." Dari perkataan Tuhan, pekerjaan Tuhan Yesus sesuai dengan kebutuhan manusia pada zaman itu, Dia melakukan pekerjaan penebusan, menjadi korban penghapus dosa bagi umat manusia melalui penyaliban, dan membebaskan manusia dari kutukan hukum-hukum. Karena itu, selama kita mengakui dosa dan bertobat kepada Tuhan Yesus, maka dosa kita akan diampuni, dan kita kemudian layak untuk menikmati anugerah-Nya yang berlimpah. Namun, apa yang Tuhan Yesus lakukan hanyalah pekerjaan penebusan yang tidak melibatkan perubahan watak orang. Dan watak Iblis sangat mengakar di dalam diri kita seperti kesombongan dan keangkuhan, keegoisan, kebengkokan dan tipu daya serta keserakahan dan kejahatan, masih tetap ada di dalam diri kita dan ini adalah sumber dari dosa kita. Jika kita tidak dapat melepaskan diri kita dari watak-watak yang rusak ini, kita akan sering berdosa dan melawan Tuhan tanpa sadar. Ini adalah fakta yang tak terbantahkan. Dengan kata lain, jika sifat dosa kita dan sumber dosa kita tidak dapat diselesaikan, tidak peduli berapa lama kita percaya kepada Tuhan, kita masih tidak dapat mencapai pertobatan sejati atau berhenti berbuat dosa, dan kita tidak akan pernah masuk kerajaan surga. Rekomendasi terkait: Bagaimana Mencapai Pertobatan Sejati Jadi, bagaimana kita dapat mencapai pertobatan sejati? Tuhan Yesus bernubuat "Ada banyak hal lain yang bisa Kukatakan kepadamu, tetapi engkau tidak bisa menerima semuanya itu saat ini. Namun, ketika Dia, Roh Kebenaran itu, datang, Dia akan menuntun engkau sekalian ke dalam seluruh kebenaran karena Dia tidak akan berbicara tentang diri-Nya sendiri; tetapi Dia akan menyampaikan segala sesuatu yang telah didengar-Nya dan Dia akan menunjukkan hal-hal yang akan datang kepadamu" Yohanes 1612-13. "Dia yang menolak Aku dan tidak menerima firman-Ku, sudah ada yang menghakiminya firman yang Aku nyatakan, itulah yang akan menghakiminya di akhir zaman" Yohanes 1248. Alkitab juga menubuatkan, "Karena waktunya akan datang penghakiman harus dimulai di rumah Tuhan dan jika itu pertama kali dimulai pada kita, apakah kesudahan dari mereka yang tidak menaati Injil Tuhan?" 1 Petrus 417. Dapat dilihat dari ayat-ayat ini bahwa ada banyak kebenaran yang Tuhan Yesus tidak katakan kepada kita ketika Dia melakukan pekerjaan-Nya. Jadi, Tuhan Yesus berjanji kepada kita bahwa Dia akan kembali di akhir zaman, mengungkapkan kebenaran yang lebih banyak dan lebih tinggi, dan melakukan pekerjaan menghakimi dan menyucikan manusia, sehingga memungkinkan kita untuk sepenuhnya membebaskan diri kita dari belenggu dosa, ditahirkan, dan mencapai pertobatan sejati. Sekarang Tuhan Yesus telah berinkarnasi kembali. Dia mengungkapkan semua kebenaran untuk menyucikan dan menyelamatkan umat manusia dan melakukan pekerjaan penghakiman yang dimulai dengan rumah Tuhan untuk sepenuhnya mencabut akar penyebab dosa-dosa umat manusia, sehingga manusia dapat mencapai pertobatan dan perubahan yang sejati, dan tidak lagi berbuat dosa atau melawan Tuhan. Ini persis menggenapi nubuat Tuhan Yesus "Dan kalau ada orang yang mendengar perkataan-Ku, dan tidak percaya, Aku tidak menghakiminya karena Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkan dunia. Dia yang menolak Aku dan tidak menerima firman-Ku, sudah ada yang menghakiminya firman yang Aku nyatakan, itulah yang akan menghakiminya di akhir zaman" Yohanes 1247-48. Lalu bagaimana Tuhan menggunakan firman untuk melakukan pekerjaan penghakiman untuk menyucikan manusia dan memungkinkan kita untuk mencapai pertobatan sejati? Mari kita baca satu bagian dari firman Tuhan. Tuhan berfirman "Di akhir zaman, Kristus menggunakan berbagai kebenaran untuk mengajar manusia, mengungkapkan hakikat manusia, dan membedah kata-kata dan perbuatan-perbuatannya. Firman ini terdiri dari berbagai kebenaran, seperti tugas-tugas manusia, bagaimana manusia harus menaati Tuhan, bagaimana setia kepada Tuhan, bagaimana hidup dalam kemanusiaan yang normal, serta hikmat dan watak Tuhan, dan lain-lain. Firman ini semuanya ditujukan pada hakikat manusia dan wataknya yang rusak. Secara khusus, firman yang mengungkapkan bagaimana manusia menolak Tuhan diucapkan karena manusia merupakan perwujudan Iblis dan kekuatan musuh yang melawan Tuhan. Dalam melaksanakan pekerjaan penghakiman-Nya, Tuhan bukannya begitu saja menjelaskan tentang sifat manusia hanya dengan beberapa kata. Dia menyingkapkannya, menanganinya, dan memangkasnya sekian lama. Cara-cara penyingkapan, penanganan, dan pemangkasan ini tidak bisa digantikan dengan kata-kata biasa, tetapi dengan kebenaran yang tidak dimiliki oleh manusia sama sekali. Hanya cara-cara seperti ini yang dianggap penghakiman, hanya melalui penghakiman jenis ini manusia bisa ditundukkan dan diyakinkan sepenuhnya untuk tunduk kepada Tuhan, dan bahkan memperoleh pengenalan yang sejati akan Tuhan. Tujuan pekerjaan penghakiman agar manusia mengetahui wajah Tuhan yang sejati dan kebenaran tentang pemberontakannya sendiri. Pekerjaan penghakiman memungkinkan manusia untuk mendapatkan banyak pemahaman akan kehendak Tuhan, tujuan pekerjaan Tuhan, dan misteri-misteri yang tidak dapat dipahami manusia. Pekerjaan ini juga memungkinkan manusia untuk mengenali dan mengetahui hakikatnya yang rusak dan akar dari kerusakannya, dan juga mengungkapkan keburukan manusia. Semua hasil ini dicapai melalui pekerjaan penghakiman, karena substansi pekerjaan ini adalah pekerjaan membukakan kebenaran, jalan, dan hidup Tuhan kepada semua orang yang beriman kepada-Nya." Di akhir zaman, Tuhan mengungkapkan kebenaran untuk membuat orang mencapai pertobatan sejati. Firman-Nya mengungkapkan dengan sangat jelas sifat Iblis kita yang menentang dan mengkhianati Tuhan, sikap kita terhadap Tuhan dan terhadap kebenaran, serta pengejaran kita yang salah dalam iman kita kepada Tuhan, dan membedah tindakan dan pikiran kita di kedalaman hati kita. Firman Tuhan ibarat pedang yang bermata dua, menembus hati kita, dan membuat kita mengetahui akar dosa kita dan melihat dengan jelas kebenaran mengenai kerusakan kita, memungkinkan kita untuk mengenali bagaimana sifat dan substansi kita penuh dengan kesombongan dan keangkuhan, keegoisan dan kekejian, kebengkokan dan tipu daya, dan lain-lainnya. Kita tahu dengan jelas persyaratan Tuhan, tetapi kita selalu dikendalikan oleh watak-watak Iblis ini, memberontak terhadap Tuhan dan melawan Tuhan tanpa terkendali, dan tidak dapat mempraktikkan kebenaran, sehingga kita telah menjadi perwujudan Iblis. Dalam menghadapi penghakiman dan hajaran Tuhan, kita telah benar-benar diyakinkan oleh firman Tuhan, kita bersujud di hadapan Tuhan, mulai membenci diri kita sendiri dan mengutuk diri kita sendiri, dan dengan demikian kita memiliki pertobatan sejati. Sementara itu, kita juga merasakan dari lubuk hati kita bahwa firman Tuhan adalah kebenaran, semua itu adalah ekspresi dari watak Tuhan dan siapa Tuhan itu. Kita melihat bahwa watak Tuhan yang benar yang tidak dapat disinggung oleh siapapun, dan bahwa esensi dari kekudusan Tuhan tidak dapat dilanggar oleh siapapun. Dengan demikian, hati yang takut akan Tuhan dikembangkan dalam diri kita, dan kita mulai mencari kebenaran dengan segenap kekuatan kita, dan bertindak sesuai dengan firman Tuhan. Semakin kita memahami kebenaran, semakin kita membedakan sifat Iblis dan watak Iblis yang berakar dalam diri kita sendiri, dan kita juga semakin mengenal Tuhan. Secara bertahap, kita dapat mempraktikkan kebenaran untuk menebus pelanggaran masa lalu kita, dan kemudian watak kita yang rusak dapat disucikan. Lambat laun, kita akan lepas dari ikatan dosa, tidak lagi dikendalikan oleh watak Iblis yang rusak, tidak lagi berbuat jahat atau menentang Tuhan dan kita akan dapat benar-benar menaati Tuhan dan menyembah Tuhan, serta mencapai pertobatan sejati. Dengan demikian, menerima pekerjaan penghakiman Tuhan di akhir zaman adalah satu-satunya jalan bagi kita untuk mencapai pertobatan sejati. Sekarang, pekerjaan penghakiman Tuhan sudah mendekati akhirnya, dan semua jenis bencana terjadi satu demi satu, jadi kita tidak memiliki banyak kesempatan untuk bertobat. Pada saat kritis ini, hanya dengan menerima pekerjaan penghakiman Tuhan di akhir zaman barulah kita dapat lepas dari belenggu dosa dan mencapai pertobatan sejati. Kalau tidak, impian kita untuk memasuki kerajaan surga tidak akan pernah terwujud. Rekomendasi terkait: Catatan Editor Rekomendasikan kolom "Renungan Harian" untuk menyediakan Anda artikel-artikel saat teduh, bacaan Alkitab, dan konten lainnya untuk memperkaya kehidupan rohani Anda. Jika Anda masih memiliki masalah atau kebingungan dalam kehidupan iman Anda, silakan hubungi kami melalui messenger atau WhatsApp, kami akan membahas dan berkomunikasi dengan Anda.
Materi khutbah Jumat ini mengingatkan kepada kita untuk senantiasa mengiri aktivitas kehidupan kita dengan nilai-nilai ibadah. Hal ini karena misi utama diciptakannya manusia ke muka bumi ini tiada lain adalah untuk beribadah kepada Allah. Untuk memberikan nilai lebih dari setiap aktivitas sehari-hari, ada 7 kalimat pendek namun penting untuk senantiasa dibaca dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah. Semoga kita bisa mengamalkannya dengan baik. Teks khutbah Jumat berikut ini dengan judul “Khutbah Jumat 7 Kalimat yang Penting Diucapkan Tiap Hari” Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini pada tampilan desktop. Semoga bermanfaat! الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ التّقْوَى خَيْرَ الزَّادِ وَاللِّبَاسِ وَأَمَرَنَا أَنْ تَزَوَّدَ بِهَا لِيوْم الحِسَاب أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ رَبُّ النَّاسِ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا حَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ المَوْصُوْفُ بِأَكْمَلِ صِفَاتِ الأَشْخَاصِ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين وسَلّمْ تَسليمًا كَثِيرًا ، أَمَّا بَعْدُ ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِىْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ Maasyiral muslimin rahimakumullah Di antara rukun khutbah Jumat yang harus dilakukan oleh para khatib adalah menyampaikan wasiat takwa. Sebagai sebuah rukun yang tak boleh terlewatkan, maka pada kesempatan yang mulia ini, khatib mengajak kepada para jamaah wabil khusus kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa bertakwa dan patuh kepada Allah dengan menjalankan segala yang diperintahkanNya dan juga menjauhi dan meninggalkan segala yang dilarang Allah swt. Takwa ini juga yang ditegaskan Rasulullah saw dalam haditsnya, merupakan faktor yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ اَلْجَنَّةَ؟ قَالَ تَقْوَى اللهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ Artinya “Rasulullah pernah ditanya perihal sesuatu yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga. Ia menjawab, Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik’.” HR Abu Hurairah Dalam hadits tersebut kita melihat bahwa selain takwa, akhlak yang baik juga menjadi faktor dominan orang masuk surga. Akhlak yang baik ini bisa terlihat dari perilaku serta perkataan seseorang saat menjalankan aktivitas sehari-hari. Jika seseorang berakhlak baik, maka dalam setiap perkataan dan perbuatannya akan terlihat kedekatannya pada Allah swt. Dari mulutnya akan keluar kalimat-kalimat mulia dalam mengiringi aktivitasnya, sebagai wujud penghambaan kepada Allah swt. Pada kesempatan khutbah kali ini, khatib ingin menyampaikan 7 kalimat mulia dan penting yang perlu diucapkan untuk mengiringi aktivitas setiap hari sehingga lebih memiliki nilai ibadah. Semakin sering kita mengucapkan kalimat-kalimat ini, maka insyaAllah hubungan kita dengan Allah semakin dekat. Dengan dibiasakannya kalimat-kalimat keluar dari mulut, maka karakter akhlak mulia bisa terpatri dan terwujud dan aktivitas kita. Maasyiral muslimin rahimakumullah Pertama adalah mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim”. Kalimat ini digunakan untuk mengawali berbagai aktivitas. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kalimat “bismillah” mengandung keberkahan. Dengan membaca kalimat ini, bermakna bahwa kita mengawali aktivitas dengan menyebut dan mengingat dzat yang paling berkuasa dalam kehidupan ini yakni Allah swt. Hal ini juga akan lebih menyadarkan kepada kita bahwa semua hasil dari yang kita lakukan nantinya tidak akan lepas dari kehendak Allah swt, baik keberhasilannya maupun kegagalannya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Yasin ayat 82-83 اِنَّمَاۤ اَمْرُهٗۤ اِذَاۤ اَرَا دَ شَیْئًـا اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ. فَسُبْحٰنَ الَّذِيْ بِيَدِهٖ مَلَـكُوْتُ كُلِّ شَيْءٍ وَّاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ Artinya “Sesungguhnya urusannya, apabila Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, jadilah!. Maka jadilah sesuatu itu. Maha suci Allah yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya kamu dikembalikan.” Kedua adalah mengucapkan “Alhamdulillahirabbil alamin”. Kalimat ini harus kita biasakan untuk diucapkan setelah menjalankan berbagai aktivitas sebagai ungkapan syukur kepada Allah swt yang telah memberikan kesempatan untuk melakukan dan menyelesaikan aktivitas. Dengan rasa syukur ini juga, kita berharap Allah melipatgandakan segala nikmat yang telah dianugerahkan-Nya. Allah telah mengingatkan dalam Al-Qur’an surat Ibrahim Ayat 7 وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ Artinya "Ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” Ketiga adalah mengucapkan “Astaghfirullahal azhim”. Sebuah kalimat yang harus diucapkan jika kita berbuat sebuah kesalahan dan dosa. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa orang yang menekuni istighfar akan mendapat kemudahan saat menghadapi kesulitan dan akan diberi rezeki dari arah yang tidak terduga مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ Artinya "Barang siapa yang menekuni istighfar, Allah akan membuat setiap kesedihan menjadi kelonggaran, setiap kesempitan menjadi jalan keluar, dan memberi rezeki kepadanya dari arah yang tidak disangka-sangka." HR Ibnu Majah Maasyiral muslimin rahimakumullah Keempat adalah mengucapkan “InsyaAllah”. Kalimat yang kita bisa diucapkan saat kita akan melakukan sesuatu pada masa yang akan datang dan belum mengerjakannya. Mengucapkan InsyaAllah merupakan perintah Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an Surat al-Kahfi ayat 23-24 وَلا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا . إِلّا أَنْ يَشَاءَ الله Artinya “Dan janganlah engkau mengatakan tentang sesuatu, Aku akan melakukannya besok.’ Kecuali jika Allah menghendaki atau mengucapkan insyaallah.” Ayat ini memuat hikmah yang sangat mendalam sekaligus pendidikan bagi kita tentang pentingnya rendah hati dan tidak melulu mengandalkan kemampuan pribadi. Hal ini karena ada kekuatan yang lebih besar dibanding dirinya yakni Allah swt. Kelima adalah mengucapkan kalimat “La haula wa la quwwata illa billah”. Kalimat ini digunakan untuk mengungkapkan pengakuan keterbatasan manusia atas kuasa Allah SWT. Hal ini sesuai dengan artinya yakni “Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah yang maha tinggi lagi maha agung.” Dalam hadits riwayat Ibnu Abid Dunya, Rasulullah menegaskan bahwa siapa saja yang membaca kalimat ini setiap hari sebanyak 100 kali, maka ia selamanya takkan ditimpa oleh kefakiran. Rasulullah pun menyebut bahwa kalimat ini merupalkan simpanan surga dengan sebuah sabdanya يَا عَبْدَ اللهِ بْنَ قَيْسٍ، أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوْزِ الجَنَّةِ؟ قُلْتُ بَلى يَا رَسُوْلَ الله، قَالَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ Artinya “Wahai Abdullah bin Qais, maukah aku tunjukkan kepadamu suatu simpanan dari berbagai simpanan surga?” Aku menjawab “Tentu, wahai Rasulullah.” Kemudian beliau bersabda “La haula wala quwwata illa billah.” HR al-Bukhari. Keenam adalah mengucapkan kalimat “Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rajiun”. Sebuah kalimat yang diungkapkan ketika kita mendapatkan ataupun mendengar sebuah musibah seperti kematian ataupun musibah-musibah lainnya. Kalimat yang disebut sebagai kalimat istirja’ ini adalah ungkapan kesadaran bahwa semua yang di dunia ini adalah berasal dari Allah dan akan kembali kepadaNya. Dengan mengucapkan kalimat ini, kita meminta kepada Allah untuk senantiasa menganugerahkan kesabaran dan ketabahan. Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 155-156 وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ 155 الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ 156 Artinya “155. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan; dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. 156. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan "Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji'ûn.". Ketujuh adalah mengucapkan kalimat “La ilaaha illalah”. Kalimat tauhid ini adalah salah satu zikir paling utama karena lebih berat dari dunia seisinya dan mampu lebih mudah mendekatkan diri kepada Allah swt. Kalimat ini bukan hanya kalimat pengakuan atas keesaan Allah swt, namun juga disebut sebagai kunci surga. Rasulullah menyebut bahwa orang yang menjelang ajalnya mengucapkan kalimat ini maka akan masuk surga. عَنْ مُعَاذَ بْنِ جَبَلٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ آخِرَ كَلَامِهِ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله دَخَلَ الْجَنَّةَ Artinya “Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu anhu ia berkata “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata, Siapa pun yang akhir ucapannya ketika menjelang ajal kalimat La ilaha illallah maka ia masuk surga’” HR. Imam Abu Daud Ma’asyiral muslimin rahimakumullah Demikianlah 7 kalimat penting yang patut kita ucapkan setiap hari dalam berbagai dinamika kehidupan sehari-hari sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah swt. Semoga kita bisa mengamalkannya dengan baik dan istiqamah. Amin. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah II اَلْحَمْدُ ِللهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ H Muhammad Faizin, Sekretaris PCNU Kabupaten Pringsewu, Lampung
Les miracles qui se sont produits pour le Messager de Dieu, محمد صلى الله عليه وسلم Mouhammad salla l-Lahou ^alayhi wasallam durant sa vie furent très nombreux ; il a été dit que leur nombre va de 1000 à 3000 miracles. Discours en Français Discours en Arabe et en Français Discours en Arabe Discours du vendredi 23 novembre 2018, correspondant au 15 Rabi^ Al-Awwal 1440 de l’Hégire Parmi les Miracles du Messager de Allah salla l-Lahou ^alayhi wasallam première partie Al-hamdou lil-Lahi [1] was–salatou was-salamou ^ala sayyidina Mouhammadi r-raçouli l-Lah ; ya ayyouha l-Ladhina amanou t-taqou l-Lah. La louange est à Allah, nous faisons son éloge, nous recherchons Son aide, nous recherchons Sa bonne guidée, nous Le remercions, nous demandons à Allah de nous préserver du mal de nos âmes et de nos mauvaises œuvres. Celui que Allah guide, nul ne peut l’égarer et celui qu’Il égare, nul ne peut le guider. Je témoigne qu’il n’est de dieu que Allah, qu’Il est le dieu unique et qu’Il n’a pas d’associé et n’a pas de semblables, ni d’adversaire ni d’équivalent. Et je témoigne que notre maître, notre bien aimé, notre éminence, notre guide, la cause de notre joie, notre maître Mouhammad, qu’il est Son esclave et Son messager, celui qu’Il agrée le plus, celui pour qui la lune s’est fendue en deux, celui à qui les pierres adressaient le salam, celui à qui les arbres obéissaient. Il est la fierté des tribus de Rabi^ah et de Moudar, que Allah honore et élève davantage en degré notre maître Mouhammad l’Honnête, ainsi que sa famille et ses compagnons bons et purs. Après quoi, esclaves de Allah, je vous recommande ainsi qu’à moi-même, de faire preuve de piété à l’égard de Allah Al-^Aliyy, Al-Qadir, Celui Qui dit dans le Qour’an honoré ﴿هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدٗا ﴾ [sourat Al-Fath / 28] houwa l-Ladhi arsala raçoulahou bil-houda wadini l-haqqi liyoudh-hirahou ^ala d-dini koullihi wakafa bil-Lahi chahida ce qui signifie C’est Lui qui a envoyé Son messager avec la bonne guidée et la religion de vérité. » Chers frères de foi, Allah tabaraka wata^ala a envoyé le Dernier des prophètes notre maître Mouhammad. Il a accompli sa mission, il a transmis le message, il a annoncé la bonne nouvelle et il a averti d’un châtiment. Il a subi de graves nuisances mais il a patienté, il a enseigné et il a ordonné, dans la chaleur ou dans le froid, l’été comme l’hiver, de jour comme de nuit, sans se lasser ni découragement, jusqu’à ce que se soumettent à lui, salla l-Lahou ^alayhi wasallam, des âmes qui étaient rudes et qui se sont adoucis par ses exhortations, des cœurs qui étaient des pierres endurcies. Et se sont mis à resplendir grâce à la lumière de sa guidée, des cœurs qui étaient noyés dans les ténèbres. Allahou tabaraka wata^ala l’a soutenu par des miracles éclatants pour qu’ils soient une preuve de sa véracité salla l-Lahou ^alayhi wasallam. Les miracles qui se sont produits pour le Messager de Allah Mouhammad salla l-Lahou ^alayhi wasallam durant sa vie furent très nombreux ; il a été dit que leur nombre va de 1000 à 3000 miracles. Ach- Chafi^iyy, que Allah l’agrée, a dit “ما أعطى اللهُ نبيًا معجزةً إلا وأعطى محمَّدًا مثلَها أو أعظمَ منها” ce qui signifie Allah n’a pas accordé de miracle à un prophète sans qu’Il n’accorde à Mouhammad un miracle semblable ou plus éminent encore. » On fit la remarque à Ach-Chafi^iyy Pourtant Allah a accordé à ^Iça la résurrection des morts ! » Il avait répondu, que Allah l’agrée Mouhammad a eu le gémissement du tronc de palmier sec, au point que sa voix a été entendue. Ce miracle est plus éminent que celui de ^Iça. » Ainsi, Al-Boukhariyy a rapporté dans son Sahih d’après Jabir Ibnou ^Abdi l-Lah, que Allah les agrée tous les deux, qu’une femme des Ansar avait dit au Messager de Dieu صلى الله عليه وسلّم Ô Messager de Allah, veux-tu que je te fasse fabriquer quelque chose sur lequel tu puisses t’asseoir ? Car j’ai un serviteur qui est menuisier. » Il avait répondu إِنْ شِئْتِ ce qui signifie Si tu veux. » ; [le rapporteur du hadith] a dit qu’elle lui avait fait faire le minbar. Le vendredi suivant, le Prophète salla l-Lahou ^alayhi wasallam prit place sur le minbar qu’on lui avait fabriqué, c’est alors que le tronc de palmier sec auprès duquel il se tenait pour donner son discours a poussé un cri au point où il a failli se déchirer. Le Prophète salla l-Lahou ^alayhi wasallam est alors descendu du minbar pour serrer le tronc de palmier entre ses bras et le palmier s’est mis à gémir comme un petit enfant qu’on essaye d’apaiser, jusqu’à ce qu’il se calme. Dans le Sahih de Ibnou Hibban, il est rapporté de Al-Haçan, que Allah l’agrée, que quand il citait ce hadith il pleurait et disait Ô esclaves de Allah, du bois a gémi pour le Messager de Allah salla l-Lahou ^alayhi wasallam car il lui manquait, alors vous, vous êtes plus à même de vous languir de le rencontrer. » Parmi ses miracles salla l-Lahou ^alayhi wasallam, il y a l’arbre qui s’est déplacé jusqu’à lui pour témoigner en sa faveur. Ibnou Hibban, Al-Bayhaqiyy et d’autres ont rapporté de ^Abdou l-Lah Ibnou ^Oumar qu’il a dit Nous marchions aux côtés du Messager de Allah salla l-Lahou ^alayhi wasallam lorsqu’un bédouin est arrivé. Quand il se fut rapproché, le Prophète salla l-Lahou ^alayhi wasallam lui a dit أَيْنَ تُرِيدُ؟ ce qui signifie Où vas-tu ? » Il lui répondit Je vais rejoindre ma famille ! » Le Prophète lui dit alors هَلْ لَكَ إِلى خَيْرٍ؟ ce qui signifie Ne voudrais-tu pas que je t’indique un bien ? » Il lui dit Quel est-il ? » Il lui répondit تَشْهَدُ أَنْ لاَ إلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ ورَسُولُهُ؟ ce qui signifie Témoigne qu’il n’est de dieu que Dieu, qu’Il est le dieu unique et qu’Il n’a pas d’associé et que Mouhammad est Son esclave et Son messager. » Le bédouin lui demanda Y a-t-il un témoin en faveur de ce que tu dis ? » Le Prophète salla l-Lahou ^alayhi wasallam lui dit alors هَذِهِ الشَّجَرَةُ ce qui signifie Cet arbre là-bas ! » Le Messager de Allah salla l-Lahou ^alayhi wasallam l’appela et l’arbre qui était au bord d’une vallée sillonna le sol, jusqu’à ce qu’il se tienne devant le Prophète. » Le Prophète l’a fait témoigner à trois reprises et il a témoigné qu’il en était comme il a dit. Parmi ses miracles salla l-Lahou ^alayhi wasallam, il y a la nourriture qui glorifiait Allah en faisant le tasbih dans sa main honorée. Al-Boukhariyy a rapporté du hadith de Ibnou Mas^oud qu’il a dit Nous mangions avec le Prophète salla l-Lahou ^alayhi wasallam la nourriture et nous entendions la nourriture faire le tasbih. » Ces trois miracles, chers frères de foi, sont en réalité plus étonnants que la résurrection des morts. En effet, la résurrection des morts n’est que le retour de ces personnes à un état qu’elles possédaient auparavant, à savoir le retour à la vie qu’elles avaient avant de mourir. Mais le tronc de bois sec, l’arbre ou ce qui est de cet ordre, ce n’était pas leur état habituel de parler ! Par conséquent, les pleurs du tronc de palmier sec, le témoignage de l’arbre dans la campagne et les évocations de glorification de la nourriture sont plus étonnants. Parmi ses miracles salla l-Lahou ^alayhi wasallam, chers frères, il y a le jaillissement de l’eau d’entre ses doigts. C’est une chose qui a été observée à plusieurs reprises par une large assistance, c’est-à-dire qu’un grand nombre de personnes étaient présentes lorsque cela s’est produit. Al-Boukhariyy et Mouslim ont en effet rapporté d’après Qatadah, d’après Anas, que Allah l’agrée, qu’il a dit On avait amené au Prophète salla l-Lahou ^alayhi wasallam un récipient, alors qu’il se trouvait à Az–Zawra’ –un endroit à Médine–. Il avait mis sa main dans le récipient et l’eau s’était mise à jaillir d’entre ses doigts. Les gens ont pu faire le woudou’ avec cette eau. » Qatadah a dit J’ai demandé à Anas, combien étiez-vous ? » Anas avait répondu Nous étions trois cents ou presque trois cents. » Al-Boukhariyy et Mouslim ont rapporté du hadith de Jabir également Le jour de Al-Houdaybiyah, les gens étaient assoiffés et le Messager de Allah salla l-Lahou ^alayhi wasallam avait avec lui un petit seau à partir duquel il faisait le woudou’. Les gens se sont attroupés autour de lui et il leur a dit ce qui signifie Que vous arrive-t-il ? » Ils ont dit Ô Messager de Allah, nous n’avons plus d’eau pour faire le woudou’ ni de quoi boire, hormis ce que tu as avec toi ! » Il mit sa main dans le petit récipient et l’eau s’était mise à jaillir d’entre ses doigts comme des sources, nous avons pu boire et faire notre woudou’. On lui demanda Combien étiez-vous ? » Il a dit Si nous avions été cent mille, cette eau nous aurait suffi ; mais nous étions quinze cents –1500–. » Parmi ses miracles salla l-Lahou ^alayhi wasallam, il y a la remise en place de l’œil de Qatadah après qu’il avait été arraché. Ainsi Al-Bayhaqiyy a rapporté dans Ad-Dala’il d’après Qatadah Ibnou Nou^man que son œil avait été blessé le jour de Badr, son globe oculaire était sorti et pendait sur sa joue. Ils voulaient le sectionner et avaient demandé l’autorisation de le faire au Messager de Allah qui leur avait dit لا ce qui signifie Non ! » Puis il l’avait fait venir et avait remis délicatement son œil en place de la paume de sa main. Après cela, Qatadah ne pouvait plus distinguer lequel de ses deux yeux avait été atteint. À propos de ces deux miracles, celui de l’eau qui a jailli d’entre ses doigts et celui de la guérison de l’œil de Qatadah qui avait été arraché, l’un de ceux qui font l’éloge du Prophète a dit en poésie arabe ce qui signifie Si Mouça étanchait la soif des asbat à partir d’un rocher, il y a certes dans la main, un sens plus fort que dans le rocher. Et si ^Iça a guéri l’aveugle de naissance par ses invocations, combien par la paume de sa main de vues il a pu rendre. Le jaillissement de l’eau d’entre ses os, ses ligaments, sa chair et son sang salla l-Lahou ^alayhi wasallam est plus étonnant que le jaillissement de l’eau à partir d’un rocher, celui que Mouça frappait de son bâton. En effet, le jaillissement de l’eau à partir de la roche est quelque chose d’habituel pour les gens, contrairement au jaillissement de l’eau entre la chair et le sang. Parmi ses miracles éclatants salla l-Lahou ^alayhi wasallam, il y a que la lune s’est fendue en deux. Une partie qui était au-dessus de la montagne de Abou Qoubays et une autre en contrebas. Le Qour’an fait connaître cet évènement tout comme les hadith. Ainsi dans le Livre honoré ﴿ٱقۡتَرَبَتِ ٱلسَّاعَةُ وَٱنشَقَّ ٱلۡقَمَرُ ١ وَإِن يَرَوۡاْ ءَايَةٗ يُعۡرِضُواْ وَيَقُولُواْ سِحۡرٞ مُّسۡتَمِرّٞ ٢ وَكَذَّبُواْ وَٱتَّبَعُوٓاْ أَهۡوَآءَهُمۡۚ وَكُلُّ أَمۡرٖ مُّسۡتَقِرّٞ ٣ وَلَقَدۡ جَآءَهُم مِّنَ ٱلۡأَنۢبَآءِ مَا فِيهِ مُزۡدَجَرٌ ٤﴾ [sourat Al-Qamar /1-4] ce qui signifie L’heure s’approche et la lune s’est fendu en deux. Et quand ils voient un signe, ils s’en détournent et disent Ceci n’est que magie persistante. » Ils ont renié et suivi leurs passions ; et Dieu sait toute chose. Pourtant, il leur est parvenu comme nouvelles de quoi les empêcher [du mal]. » Il est parvenu dans le Sahih de Al-Boukhariyy d’après Anas Ibnou Malik, que Allah l’agrée, qu’il a dit Les gens de la Mecque avaient demandé au Messager de Allah salla l-Lahou ^alayhi wasallam de leur montrer un miracle. Il leur a montré la séparation de la lune en deux. » Dans une version de Mouslim Il leur a montré la séparation de la lune deux fois. » Et dans Dala’ilou n-Noubouwwah de Abou Nou^aym, d’après Ibnou Mas^oud La lune s’est séparée en deux à l’époque du Messager de Allah salla l-Lahou ^alayhi wasallam mais les gens de Qouraych ont dit que c’est encore une sorcellerie du fils de Abou Kabchah. » Ils visaient par-là le Prophète ^alayhi s–salatou was-salam. Il a dit Ils ont dit alors Voyez ce que les caravaniers qui arriveront dans les jours qui viennent vont dire » c’est-à-dire les caravanes qui revenaient vers la Mecque car Mouhammad ne peut pas ensorceler tout le monde. » Il a dit Les caravaniers sont revenus et ont dit la même chose. » Quelle gloire que celle que nous avons obtenue par ce Prophète éminent ! Lui que son Seigneur a soutenu par des miracles éclatants qui sont autant de preuves claires et autant d’arguments éclatants de sa véracité salla l-Lahou ^alayhi wasallam. Alors bonheur à qui l’aura pris pour modèle ! Bonheur à qui aura soutenu sa religion et à qui aura revivifié sa tradition ! Ayant tenu mes propos, je demande que Allah me pardonne ainsi qu’à vous-mêmes. Second Discours[2] Al-hamdou lil-Lahi was–salatou was-salamou ^ala sayyidina Mouhammadi r-raçouli l-Lah ; ya ayyouha l-Ladhina amanou t-taqou l-Lah. Allahoumma ghfir lil-mou’minina wal-mou’minat. [1] Il s’agit des piliers selon Ach-Chafi^iyy pour ceux qui seraient amenés à donner le discours entièrement en français. Les piliers devraient être dits en arabe. [2] Il s’agit des piliers selon Ach-Chafi^iyy pour ceux qui seraient amenés à donner le discours entièrement en français. Les piliers devraient être dits en arabe.
khotbah tentang kehidupan sehari hari